Wisata Arsitektur Di Sambas Yang Penuh Pergolakan, Perbatasan Kritis Antara Indonesia Malaysia

Wisata Arsitektur Di Sambas Yang Penuh Pergolakan, Perbatasan Kritis Antara Indonesia Malaysia.

 

 

Walaupun di masa pemerintahan Orde baru, hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia tidak begitu baik, namun diantara kedua negara tetap memilki hubungan yang saling menghormati antara satu dengan yang lain. Dan bila kita melihat pada daerah perbatasan sepanjang batas kedua negara, kita tetap menemukan suasana yang bersahabat di antara kedua warga yang walaupun berbeda kewarganegaraan, tapi masih satu suku dan saling berinteraksi dengan baiik. Misalnya saja suku Sambas di kalimantan, ada anggota keluarga mereka yang berada di wilayah Malaysia dan ada juga anggota keluarga dari suku tersebut yang tinggal di wilayah Indonesia. Dan diantara mereka saling kunjung mengunjungi antara satu dengan yang lain. Di antara mereka juga tetap melakukan gotong royong dalam pembangunan suatu rumah dan tetap memilih arsitektur bergaya khas Sambas bagi pilihan model rumah mereka.

Model Arsitektur Rumah Suku Sambas

Model arsitektur rumah suku Sambas di Kalimantan ini antara model arsitektur rumah yang berada di wilayah Malaysia dengan model arsitektur rumah yang ada di wilayah Indonesia tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Tetap sama dan satu style arsitektur. Dan dalam pembangunannya mereka juga memiliki arsitek yang pengetahuannya tentang desain sudah mereka wariskan turun temurun dari nenek moyang mereka. Masing-masing desa memiliki tokoh yang menjabat sebagai arsitek bagi pembangunan rumah suku mereka. Dan ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada perselisihan maupun perdebatan.

 

Hubungan yang unik diantara suku Sambas di sepanjang perbatasan kedua negara ini makin dipererat dengan dibangunnya Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) oleh pemerintah Indonesia yang diresmikan pada tanggal 1 Januari 2011 yang lalu. PPLB ini menghubungkan daerah Sambas di wilayah Indonesia dengan Biawak di Serawak Malaysia. Dan menurut Ahmad Roffi Faturrahman, IAI, seorang arsitek yang peduli dengan kebudayaan arsitektur daerah, awalnya pembangunan PPLB ini mengalami banyak tantangan dan kendala. Contohnya dalam memutuskan konsep arsitektur bangunan yang dipilih, baik dari pihak Indonesia maupun Malaysia sama-sama menginginkan arsitektur yang dipakai berasal dari konsep mereka. Tapi akhirnya semua itu bisa diselesaikan dengan mengambil jalan tengah. Tim arsitek yang dibentuk mengajak musyawarah kedua pihak dan akhirnya diputuskan bahwa konsep arsitektur rumah yang dipilih yakni memakai konsep rumah bergaya arsitektur Keraton Sambas.

arsitektur keraton sambas

arsitek keraton sambas

Konsultan Arsitek

Salah satu konsultan arsitek yang dipercaya pemerintah dan turut serta diminta pendapatnya dalam mendesain konsep arsitektur bangunannya adalah Arsitek Online yang hasil karya desain dan contoh rumahnya bisa dilihat langsung di situsnya disini Arsitek. Pembangunan PPLB ini saat permbangunannya sedang berlangsung, tetap wajib melakukan berbagai perundingan dengan berbagai pihak masyarakat yang berasda di sekitar perbatasan, terutama dalam menentukan konsep bangunan yang diangkat tersebut. Disini tim arsitek di lapangan juga tetap melakukan konsultasi dengan petinggi-petinggi adat suku yang lain, guna menentukan ornamen-ornamen yang pantas untuk dipakai pada bangunan PPLB tersebut.

 

Selain itu, tim arsitek juga terpakas melakukan penyesuaian yang ada terhadap peletakan ornamen yang dipilih. Ini bertujuan agar tidak menyalahi norma adat dan norma budaya tiap suku yang ada di sekitar perbatasan.

PPLB Aruk-Biawak

Pada prinsipnya, tim arsitek yang bertugas membangun pembangunan fisik PPLB tersebut selalu berusaha sedapat mungkin untuk tetap menjaga tatanan adat agar tidak terjadi pelanggaran, baik pelanggaran pada norma adat maupun pelanggaran dalam proses realisasi PPLB itu sendirit. Dan setelah berdirinya PPLB tersebut, hubungan baik yang terjalin di antara warga di kedua negara di sepanjang perbatasan tersebut diharapkan bisa semakin baik dan rukun. Warga negara Indonesia yang tinggal di perbatasan yang berada di wilayah Sambas bisa semakin mudah bepergian menjenguk saudaranya yang berada di wilayah negara tetangga.

arsitektur pos perbatasan aruk sambas

arsitektur pos perbatasan aruk sambas

Bila kita lihat ke belakang, kendala yang terjadi dalam realisasi proyek bangunan PPLB Aruk-Biawak ini tidak hanya terjadi pada masalah konsolidasi untuk desain bangunannya ataupun pemilihan ornamen-ornamen arsitektur yang pantas untuk diterapkan pada bangunannya, namun terdapat beberapa kendala yang lebih sulit untuk diselesaikan. Contohnya pada permasalahan topografi dari lahan tempat bangunan PPLB itu sendiri yang akan didirikan.  Juga masalah-masalah transportasi untuk suplay material-material yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembangunan bangunannya.

 

Urusan kontur lahan yang variatif adalah salah satu faktor yang membuat tim arsitek yang mendesain bangunan PPLB ini jadi semakin rumit. Belum lagi kendala menghadapi  buruknya infrastruktur transportasi di sepanjang wilayah perbatasan kedua negara ini. Buruknya infrastruktur tersebut terlihat dari jalan sebagai sarana transportasi yang ada dimana di daerah Aruk sangat sulit dalam pengiriman material untuk pembangunan PPLB ini. Akibat buruknya infrastruktur yang ada ini membuat biaya material menjadi melonjak dan mahal. Akhirnya solusi yang dipilih tim arsitek adalah membeli material dari wilayah Malaysia. Kenapa demikian? karena bahan material bangunan yang dibeli dari Malaysia  lebih murah daripada harga material bangunan dari wilayah Indonesia.

Pembangunan PPLB Lain

Sekarang Pemda Kalimantan Barat rencananya tengah mengkaji untuk membuka lima pintu perbatasan lagi dengan Malaysia. Ini dilakukan tentunya untuk memajukan perekonomian daerah di wilayah negara kita. “InsyaAlloh akan ada lima PPLB lagi yang akan dibangun di Kalimantan Barat ini,” ujar arsitek Roffi saat diwawancarai di kantornya. “Kelima PPLB baru itu adalah yang berada di Jagoi Babang (Kabupaten Bengkayang), Entikong (Kabupaten Sanggau), Aruk (Kabupaten Sambas), Badau (Kabupaten Kapuas Hulu) dan Senaning (Kabupaten Sintang). Dan dari 5 PPLB yang dalam planning pengerjaan tersebut, alhamdulillah sudah dua yang berdiri yakni PPLB di Entikong dan PPLB di Aruk.

 

Dalam perencanaan ke depan dan bila tidak ada halangan, PPLB Aruk Jagoi sudah bisa untuk segera direalisasikan. Walaupun halangan ternyata datang dari pihak Pemerintahan Malaysia yang kurang menyetujui berdirinya PPLB di daerah Aruk Jagoi ini. Padahal dari segi manfaat dan keutamaannya, jarak dari Aruk Jagoi ke Kuching yang notabene adalah ibukota Sarawak, ternyata jauh lebih strategis bahkan lebih dekat letaknya daripada jarak dari Entikong ke Kuching. Seharusnya keunggulan ini harus disambut baik pihak Pemerintahan Malaysia dan dengan ikhlas menyetujuinya sehingga dapat bermanfaat bagi rakyat Malaysia juga.

 

Menurut arsitek Roffi lagi, bila dikaji wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia, terdapat jelas sekali ketimpangan yang terjadi pada daerah Malaysia dan Indonesia. Sebagai contoh dari segi infrastruktur, jelas sekali terlihat pemerintah Malaysia sangat peduli pada perkembangan daerah-daerah terpencil di wilayah mereka. Dan sebaliknya, perkembangan di daerah-daerah terpencil di wilayah Indonesia terlihat kurang mendapat perhatian. Hal-hal seperti lah yang seharusnya pemerintah tanggap dan pembangunan jalan yang layak untuk akses di sekitar perbatasan harus segera direalisasikan Pemerintah Indonesia. Ini bertolak belakang dengan kondisi jalan yang menuju ke titik nol yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia di daerah Malaysia, disana terlihat sudah bisa dibilang lebih baik.

 

Terakhir sebagai penutup, selayaknyalah perbatasan di wilayah kedua negara ini tidak menjadi pembatas yang justru memperlihatkan mana pemerintah yang peduli dengan rakyaknya dan mana pemerintahan yang tidak peduli dengan rakyatnya, terutama di perbatasan. Perbatasan seharusnya menjadi simbol dan bukan menjadi “membatasi kemakmuran” bagi masyarakat sekitar untuk lebih menikmati kemajuan.

 

 

Author: Edan Piknik

Share This Post On

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *